Monday, December 28, 2009

Bersangka Baiklah Dan Jangan Mudah Mencurigai Saudaramu Kerana Ia Adalah Perkataan Yang Paling Dusta dan Kebanyakkan Prasangka Buruk Itu Adalah Dosa

Bersangka Baiklah Dan Jangan Mudah Mencurigai Saudaramu Kerana Ia Adalah Perkataan Yang Paling Dusta dan Kebanyakkan Prasangka Buruk Itu Adalah Dosa


Allah berfirman:"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (Al-Hujuraat 49:12)

Larangan Berprasangka Buruk

Allah berfirman supaya melarang para hambaNya yang beriman untuk banyak berprasangka buruk iaitu dengan mencurigai keluarga, kerabat serta orang lain dengan tuduhan yang buruk yang bukan pada tempatnya. Kerana sesungguhnya sebahagian dari perbuatan tersebut merupakan hal yang menyebabkan dosa. Oleh kerana itu, hendaklah hal tersebut dijauhi secara keseluruhan sebagai tindakan pencegahan.

Diriwayatkan oleh Amirul Mukminin, 'Umar bin al-Khattab ra, ia berkata,"Janganlah kamu sekali-kali berprasangka terhadap suatu ucapan yang muncul dari saudaramu yang beriman melainkan dengan prasangka yang baik, kerana engkau memiliki cara lain untuk memahami(perkataan)nya dengan pemahaman yang baik. [Dan ucapan tersebut masih dimungkinkan mengandungi kebaikan].(Atsar riwayat Ahmad dalam kitab az-Zuhd, juga ad-Durrul Mantsuur (VI/99))

Imam Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia mengatakan bahawa Rasulullah saw bersabda:

قال أبو هريرة يأثر عن النبي ( صلى الله عليه وسلم " قال : " إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تحسسوا ولا تجسسوا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانا

"Jauhilah prasangka, kerana sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mengintip kesilapan orang lain dan janganlah kalian saling mencari kesalahan orang lain, dan jangan saling membenci.Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara" (Al-Muwaththa' (II/907))


Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud.

عن أنس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تقاطعوا ولا تدابروا ولا تباغضواولا تحاسدوا وكونوا عباد الله إخوانا ولا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ايام


Diriwayatkan oleh Anas ra, ia mengatakan bahawa Rasulullah saw bersabda,"Janganlah kalian saling memboikot, janganlah saling membelakangi, janganlah saling membenci, janganlah saling iri hati, tapi jadilah hamba-hamba Allah swt yang bersaudara. Dan tidak lah halal bagi seorang yang beragama islam (muslim) untuk bersikap diam (tidak saling bertanya) tentang saudaranya lebih dari tiga hari" (Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, serta disahihkan oleh at-Tirmidzi)

Firman Allah swt "وَلَا تَجَسَّسُوا" "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain", yakni sebahagian dari kalian terhadap sebahagian yang lain. Kata tajassus pada umumnya dipakai untuk hal-hal yang tidak baik. Oleh sebab itu lah maka "mencari kesalahan orang lain" dalam bahasa arab disebut dengan al-jassus. Sedangkan kata tahassus pada umumnya ditujukan kepada kebaikan seperti pengertian yang terdapat dalam firman Allah swt yang menceritakan perihal Nabi Ya'qub ketika mengatakan kepada para Putranya:

Allah berfirman:"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."(Yusuf 12:87)

Namun adakalanya juga kata tersebut diguna pakai untuk perkataan negatif seperti pengertian yang terdapat dalam hadis sahih,dimana Rasulullah bersabda:

لا تحسسوا ولا تجسسوا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانا

"Janganlah kalian saling mengintip kesilapan orang lain dan janganlah kalian saling mencari kesalahan orang lain, dan jangan saling membenci.Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara" (Hadis Riwayat Bukhari, Fat-hul Baari (X/496))

Al-Auza'i berkata, "Tajassus adalah mencari-cari sesuatu, sedangkan tahassus adalah mencuri dengar pembicaraan sekelompok orang sedangkan mereka tidak suka jika perbicaraan itu didengar oleh orang lain, atau mencuri dengar dari bilik rumah mereka. Tadabbur adalah sikap saling mendiamkan, tidak mengajak bicara"

Firman Allah swt "وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا","dan janganlah menggunjingkan satu sama lain",Dalam ayat ini terdapat larangan larangan untuk menggunjing atau mengumpat. Hal tersebut ditafsirkan oleh Nabi saw melalui sabda nya yang mengatakan tentang ghibah iaitu:

ذكرك أخاك بما يكره ، قيل : أفرأيت إن كان في أخي ما أقول ؟ قال : إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته ، و إن لم يكن فيه فقد بهته " . أخرجه مسلم

"Pembicaraanmu tentang saudaramu yang tidak dia sukai",Ada yang bertanya,"Bagaimana jika yang dibicarakan itu benar adanya?" Rasulullah saw menjawab,"Jika yang kamu bicarakan itu ada padanya, beerti kamu telah mengumpatnya, dan jika apa yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka kamu telah berdusta padanya" (Hadis senada juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata, "Hasan shahih")

Terdapat peringatan keras dalam masalah ghibah, kerana itulah Allah swt menyamakan perlakunya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya,"أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ", ertinya, sebagaimana kalian tidak suka memakai bangkai saudara sendiri,maka janganlah mengumpat, kerana hukumannya lebih berat dari itu.

Ayat tersebut memberikan peringatan kepada kita menjauhi ghibah, sebagaimana sabda rasulullah saw tentang orang yang meminta lagi pemberiannya,dimana beliau bersabda:

كالكلب يعود في قيئه

"Seperti anjing yang muntah, lalu menelan kembali muntahnya"

Sebelumnya rasulullah saw bersabda:

ليس لنا مثل السوء

"Kami tidak memiliki perumpamaan yang buruk" (Hadis Riwayat Bukhari, Fat-hul Baari (V/278))


Disebutkan dalam berbagai kitab sahih, hasan dan berbagai musnad, yang bersumber dari berbagai jalur bahawa rasulullah saw pernah bersabda dalam khutbah haji wada';

إن دماءكم وأموالكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا

"Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian semua, sebagaimana kesucian hari, bulan dan negeri kalian ini" (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Dawud meirwayatkan dari Abu Hurairah ra,ia mengatakan bahawa Rasulullah saw bersabda:

كل المسلم على المسلم حرام ماله و عرضه و دمه حسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم

"Diharamkan atas setiap orang muslim harta, kehormatan dan darahnya terhadap muslim lainya.Cukuplah keburukan seseorang,bila ia menghina saudaranya sesama muslim" (Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata,'Hasan gharib'.

Al-Hafiz Abu Ya'la meriwayatkan oleh dari saudara sepupu Abu Hurairah ra,seseungguhnya Ma'iz pernah mendatangi rasulullah saw saw sambil berkata,"Wahai Rasulullah!Aku telah berbuat zina",Rasulullah saw pun berpaling darinya sampai Ma'iz mengulang-ulang perkataannya sebanyak empat kali. Ketika Ma'iz mengulang untuk kali kelima kalinya,Rasulullah saw bertanya,"Engkau berbuat zina?"Ma'iz menjawab,"Ya".Rasulullah bertanya,"Tahukah engkau apa itu zina?" Ma'iz menjawab,"Ya,aku melalukan perbuatan terlarang dengannya sebagaimana seorang suami yang mendatangi isterinya secara halal."Rasulullah saw bertanya,"Apa yang engkau maksudkan dengan pengakuanmu ini?"Ma'iz menjawab,"Aku bermaksud agar engkau mensucikanku."Rasulullah bertanya,"Apakah itu(kemaluan)mu masuk kedalam itu (kemaluan)nya,sebagaimana batang celak dimasukkan ke dalam wadahnya atau sebagaimana timba dimasukkan ke dalam sumur?"Ma'iz menjawab,"Ya,wahai rasulullah."Kemudian Rasulullah saw memerintahkan agar ia (Ma'iz) dirajam. Ma'iz pun dirajam. Kemudian rasulullah saw mendengar ada 2 orang yang bercakap-cakap.salah satunya berkata,"Tidakkah engkau saksikan orang yang telah ditutupi (dosanya) oleh Allah swt tetapi jiwanya tidak meninggalkannya,melainkan harus dirajam seperti anjing"Rasulullah saw tetap sahaja berjalan hingga melalui bangkai,lalu bersabda:

أين فلان وفلان ؟ " فقالا : نحن ذان يا رسول الله فقال : " انزلا فكلا من جيفة هذا الحمار " فقالا : يا نبي الله من يأكل من هذا ؟ قال : " فما نلتما من عرض أخيكما آنفا أشد من أكل منه والذي نفسي بيده إنه الآن لفي أنهار الجنة ينغمس فيها

"Dimanakah si Fulan dan si Fulan?Suruhlah keduanya turun dan memakan bangkai keledai."Keduanya menjawab,"Semoga Allah mengampunimu,wahai rasulullah! Apakah bangkai ini layak untuk dimakan?"Rasulullah saw menjawab,"Apakah yang telah kalian berdua katakan tentang saudaramu tadi jauh lebih menjijikkan daripada bangkai keledai ini rasanya.Demi Dzat yang jiwanya ada ditangan-Nya,sesungguhnya dia sekarang benar-benar berada disungai-sungai Syurga menyelam didalam nya" (Ibnu Kathir rh berkata, "Sanad Hadis ini shahih")

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah ra,ia berkata,"Kami pernah bersama-sama dengan Nabi saw,tiba-tiba bau bangkai menyengat berhembus.Kemudian Rasulullah saw bertanya,"Tahukah kalian bau apa ini?Ini adalah bau orang-orang yang suka mengumpat(menceritakan keburukan) sesama manusia" (HR Ahmad, Komentar Syaikh Al-Albani, hadis ini "Hasan Lighairihi",lihat Shahihut Targhiib wat Tarthiib no 2840)

Cara Bertaubat Bagi Mereka Yang Mengumpat dan Menyebarkan Fitnah

Firman Allah swt,"وَاتَّقُوا اللَّهَ", Yakni dalam perintah dan larangan-Nya,perhatikan dan takutlah. "إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ" Yakni Maha Penerima taubat bagi orang yang bertaubat dan Maha Penyayang bagi orang yang kembali dan bergantung kepada-Nya.

Jumhur ulama' mengatakan "cara taubat pengumpat adalah melepaskan diri dari perbuatan tersebut serta berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.Apakah disyaratkan adanya penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan, serta meminta maaf dari orang yang pernah diumpatkannya?Terdapat perbezaan pendapat dalam masalah ini.

Ada yang berpandangan, tidak disyaratkan untuk meminta maaf, sebab jika org yg pernah diumpatkannya itu mengetahuinya, boleh sahaja akan lebih merasakan sakit,dibandingkan dengan ketika ia belum mengetahui. Untuk itu caranya adalah dengan memujinya diberbagai tempat dimana ia pernah diumpatkan dan mengubah ghibah semampunya sehingga boleh menutupi dosa ghibah yang pernah dilakukan. Hal itu dalam rangka menebus kesalahan terhadap nya.

Rujukan:

Kitab Tafsir Ibnu Kathir, m/s.477-483, Cetakan Pertama, Pustaka Ibnu Kathir, oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

2 comments:

faeiqah said...

jgn percaya apa yg kamu dgr...

percaya separuh apa yg kamu lihat....

~ Al-FaQirah Ila Rabbi ~ said...

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah dipertemukan dgn laman ilmu ini...syukur pd ALLAH..

Ya Ustaz, ana mohon izin share artikel disini, boleh? Nanti ana link back...syukran ya ustaz..barakallahu fik