Sunday, November 30, 2008

Berdoalah, dengan Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat


Allah berfirman: "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka' "(Al-Baqarah 2:201)

Doa ini meliputi pelbagai kebaikan dunia menjauhkan segala kejahatan. Kebaikan didunia mencakupi semua permintaan bersikap duniawi, berupa kesihatan, rumah yang luas, isteri yang cantik dan solehah, rezeki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal soleh, kenderaan yang nyaman, pujian dan sebagainya yang tercangkup dalam ucapan ahli tafsir, dan tidak ada pertentangan diantara semua itu, kerana semua itu termasuk dalam kategori kebaikan dunia.

Sedangkan tentang kebaikan akhirat, maka yang tertinggi ialah masuk syurga dan seluruh hal nya yang berupa rasa nyaman dari ketakutan yang sangat besar di Hari Kiamat, kemudian Hisab, dan pelbagaian kebaikan urusan akhirat.

Adapun keselamatan dari api neraka, bererti juga terlindung dari berbagai-bagai faktor penyebabnya didunia berupa perlindungan dari pelbagai larangan dan dosa, dan juga terlindung dari perkara syubhat. (perkara yang samar, tidak jelas halal atau haramnya, dan juga hal2 yang haram)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ma'mar, dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, Rasulullah saw berdoa: "Ya Allah, ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka" (fathul Baari (VIII/35) Al-Bukhari no 4522)

Al-Qasim Abu 'Abdirrahman mengatakan, "Barangsiapa dianugerahkan hati yang selalu bersyukur, lisan yang sentiasa berzikir, dan diri yang sabar, beerti dia telah diberi kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat serta dilindungi dari azab neraka"
(Ibnu Abi Hatim (II/542), tahqiq DR, Al-Ghamidi)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahawa Rasulullah saw pernah menjenguk seorang muslim yang sudah sangat lemah seperti anak burung, lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah engkau berdoa kepada Allah swt atau memohon sesuatu kepada-Nya", Ia menjawab, "Ya, aku mengucapkan, Ya Allah, jika engkau menetapkan siksaan ku diakhirat, timpakanlah sahaja bagiku didunia", Maka Rasulullah saw bersabda, "Subhanallah, engkau tidak akan kuat dan tidak akan sanggup menerimanya. Mengapa engkau tidak mengucapkan,

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka?"

Maka Rasulullah saw berdoa pada orang tersebut, dan Allah swt pun menyembuhkannya"

(HR Ahmad (III/107), disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam kitabnya Silsilah ash-Shahiihah (mo 2197), HR Muslim (IV/2068) no 2688)

Sunday, November 23, 2008

Berdoalah, Sesungguhnya Allah swt itu Dekat


Allah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (Al-Baqarah 2:186)

Allah swt Sentiasa Mendengar Permintaan Hamba-hamba NYA

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari bahawa, "Ketika kami bersama Rasulullah saw dalam suatu peperangan, tidaklah kami mendaki, menaiki bukit, dan menuruni lembah, melainkan kami meninggikan suara ketika bertakbir. Kemudian baginda saw mendekati kami dan bersabda:"Wahai sekalian manusia, tahanlah diri kamu, sesungguh kamu tidak berdoa pada Rabb yang tuli dan jauh, akan tetapi kamu berdoa kepada Rabb Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sesungguhnya Rabb yang kalian seru itu lebih dekat kepada seseorang diantara kalian dari leher binatang tunggangan nya. Wahai Abdulullah bin Qais, mahukah kamu aku ajarkan sebuah kalimat yang termasuk perbendaharaan Surga?, Iaitu ucapan 'Laa haula walaa quwwata illaa billaah' (tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah swt"(HR Bukhari no 2992 dalam kitab Faathul Baari (II/509) dan Muslim no 2704 dalam Sahih Muslim (IV/2076) )

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas r.a bahawa Nabi saw bersabda:"Allah Ta'ala Berfirman: 'Aku menuruti persangkaan hamba-Ku dan Aku akan sentiasa bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku'"(HR Ahmad (III/210) dengan sanad Sahih, juga diriwayatkan oleh Muslim no 2675)

Doa Pasti akan Diterima dan Tidak Akan Disia-siakan

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id bahawa Nabi saw bersabda:"Tidak lah seorang muslim berdoa pada Allah swt, dengan doa yang tidak mengandungi dosa atau memutuskan tali silatrurrahim melainkan Allah akan memberikan kepada nya satu diantara 3 perkara, (pertama) boleh jadi Allah swt menyegerakan baginya didunia, atau (kedua) Allah swt menyimpan baginya sebagai pahala diakhirat, atau (ketiga) Allah menahan keburukan dari dirinya yang semisal dengan apa yang ia minta" Mereka mengatakan: "Kalau begitu kami akan memperbanyakkan do'a" Beliau bersabda: "Allah lebih banyak lagi (pemberian-Nya)"(HR Ahmad (III/18) dengan sanad Sahih, disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab Shaahihul Jaami no 5714)

Imam Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahawa Nabi saw bersabda: "Doa salah seorang diantara kalian akan sentiasa dikabulkan selama ia tidak terburu-buru, yakni ia mengatakan: 'Aku sudah berdo'a namun tidak juga dikabulkan bagiku"(HR Ahmad (II/396) )

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahawa beliau bersabda:"Do'a seorang hamba akan sentiasa dikabulkan selama ia tidak berdo'a untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturrahim dan selama ia tidak tergesa-gesa. "Seseorang bertanya: "Ya Rasulullah, apa yang dimaksudkan dengan tergesa-gesa?", Beliau menjawab, "Iaitu ia berkata, 'Sesungguhnya aku telah berdo'a, tetapi belum pernah aku melihat do'aku dikabulkan' Maka ketika ia merasa letih dan akhirnya meninggalkan do'a"(HR Muslim (IV/2096) no 2735)

Tiga Orang yang Doanya Tidak Akan Ditolak

Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: "Rasulullah saw bersabda:"Ada tiga orang yang do'a nya tidak akan ditolak: (pertama) penguasa yang adil, (kedua) orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, dan (ketiga) doa orang yang dizhalimi, Allah akan menaikkan do'anya tanpa terhalang awan mendung pada hari Kiamat, dan dibukakan bagi do'a tersebut pintu-pintu langit, dan Dia berfirman: "Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu"(HR Ahmad (III/544), Tuhfatul Ahwadzi (VII/229) dan Ibnu Majah (I/557), At-Tirmidzi no 2526 dan Ibnu Majah no 1752, Riwayat dengan lafaz seperti ini didhaifkan oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab Dha'iiful Jaami' no 2592)

Adapun riwayat yang Sahih berbunyi:

"Tiga do'a yang tidak akan ditolak, do'a orang tua terhadap anak nya, do'a orang yang sedang berpuasa, dan do'a orang yang sedang dalam perjalanan."(Kitab Silsilah ash-Shahiihah no 1797)






Saturday, November 22, 2008

Ingat lah pada Allah swt dan Nescaya Allah swt akan ingat pada kita


Allah Berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Al-Baqarah 2:152)


Hasan Al-Basri mengatakan, "Maksud (ayat ini ialah) ingat lah kalian atas apa yang telah Aku wajibkan atas kalian, niscaya Aku pun akan mengingat kalian atas apa yang telah Aku tetapkan bagi kalian atas diri-Ku"

Rasulullah saw bersabda dlm Hadis Sahih : "Allah Ta'ala berfirman : Barangsiapa mengingati- KU dalam dirinya, niscaya aku mengingati nya dalam diri-KU, dan Barangsiapa mengingati-KU dalam suatu majlis, niscaya Aku akan mengingati nya dalam majlis yang lebih baik dari nya" (Fathul Baari , Al-Bukhari no 7405)

Rasulullah saw bersabda dlm Hadis Sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik : "Allah berfirman: Wahai anak Adam, jika engkau mengingati-KU dalam dirimu, maka AKU akan mengingati mu dalam diri-Ku. Dan jika engkau mengingati-Ku dalam suatu majlis, maka Aku akan mengingatimu dalam majlis para Malaikat, Atau Allah berfirman: "Di tengah majlis yang lebih baik darinya" - Dan jika engkau mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadamu sehasta, dan jika engkau mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepada mu sedepa, Dan jika engkau mendatangi-KU dengan berjalan, maka aku akan mendatangimu dengan berlari kecil" (HR Bukhari dengan sanad-sanad nya Sahih)

Friday, November 7, 2008

Mintalah Pertolongan Allah dengan Jalan Sabar Dan Solat


Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ ,الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhya hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusyu’ , (iaitu) orang-orang yang menyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahawa mereka akan kembali kepada-Nya" (Al-Baqarah 2:45-46)

Maksud Keseluruhan

Dalam tafsir Ibnu Kathir beliau mengatakan:

يقول تعالى آمرًا عبيده ، فيما يؤمّلون من خير الدنيا والآخرة ، بالاستعانة بالصبر والصلاة

"Allah subhanahu wata'ala memerintahkan hamba-hamba Nya untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat yang mereka harapkan, dengan cara menjadikan kesabaran dan solat sebagai penolong."

Muqatil bin Hayyan dalam tafsirnya tentang ayat ini, beliau mengatakan:

استعينوا على طلب الآخرة بالصبر على الفرائض ، والصلاة

"Hendaklah kalian mengejar kehidupan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajipan dan menjadikan solat sebagai penolong"

Sabar adalah Puasa

Menurut Mujahid, yang dimaksudkan kesabaran itu adalah shiyam (puasa)

Al-Qurthubi dan selainnya pula mengatakan:

ولهذا سمي رمضان شهر الصبر كما نطق به الحديث

"Oleh kerana itulah bulan Ramadhan disebut bulan kesabaran" (Al-Qurthubi 1/372), sebagaimana pernah disebut dalam hadis.

Sabar ialah Menahan Diri dari Perbuatan Maksiat

Ibnu Kathir juga mengatakan:

وقيل : المراد بالصبر الكف عن المعاصي ؛ ولهذا قرنه بأداء العبادات وأعلاها : فعل الصلاة

"Dan dikatakan pula bahawa: yang dimaksud dengan Sabar dalam ayat tersebut adalah menahan dari dari perbuatan maksiat, kerana disebutkan bersama dengan pelaksaan pelbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah Solat."

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari 'Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu ia berkata:

الصبر صبران : صبر عند المصيبة حسن ، وأحسن منه الصبر عن محارم الله

"Sabar itu ada dua, sabar ketika menghadapi musibah, itu adalah baik, dan lebih baik lagi adalah sabar dalam menahan diri dari perkara yang diharamkan oleh Allah"

Ibnu Abi Hatim juga berkata, "Hal yang senada dengan 'Umar ini diriwayatkan dari Hasan AL-Basri" (Ibnu Abi Hatim I/155)

Solat Menolong Seseorang Mendapatkan Kekuatan dari Berbuat Maksiat

Ibnu Kathir menyebut bahawa Firman Allah "وَالصَّلاةِ" dengan berkata:

فإن الصلاة من أكبر العون على الثبات في الأمر ، كما قال تعالى : { اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ } الآية العنكبوت : 45

"Sesungguhnya solat termasuk perkara besar yang menolong seseorang untuk mendapatkan ketetapan dalam suatu perkara, sebagaimana Firman Allah: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (solat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Al-Ankabuut 29:45)

Ibnu Kathir berkata:

والضمير في قوله : { وَإِنَّهَا } عائد إلى الصلاة ، نص عليه مجاهد ، واختاره ابن جرير

"Dan dhamir (kata ganti) dalam Firman Allah "وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ" kembali kepada kata Solat. Pendapat dari dari Mujahid dan ia dipilih oleh Ibnu Jarir"

Namun Dhamir itu boleh juga kembali kepada ayat tersebut, iaitu wasiat untuk melakukan hal tersebut. Sebagaimana firman Allah tentang kisah Qarun:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar" (Al-Qashah 28:80)

Dan juga firman-Nya:

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (Fussilat 41:34-35)

Maka walau bagaimanapun, firman Allah "وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ" beerti beban yang sangat berat, "إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ" kecuali kepada orang-orang yang khusyu'. Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:

يعني المصدّقين بما أنزل الله

"Iaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah"

Tentang ayat seterusnya iaitu "الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ" ((iaitu) orang-orang yang menyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahawa mereka akan kembali kepada-Nya) beliau berkata:

هذا من تمام الكلام الذي قبله ، أي : وإن الصلاة أو الوَصَاة لثقيلة

"Ayat ini menyempurnakan kandungan ayat sebelumnya, iaitu solat atau wasiat itu merupakan beban yang berat" kecuali kepada...

Definisi Orang Yang Khusyu'

Ibnu Kathir berkata pada ayat ini: "إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ ,الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ" dengan berkata:

يعلمون أنهم محشورون إليه يوم القيامة ، معروضون عليه

"Iaitu mengetahui bahawa mereka akan dikumpulkan kepada-Nya pada hari Kiamat dan dikembalikan kepada-Nya"

Definisi Dikembalikan Kepada-Nya

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini: "وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ", beliau berkata:

أمورهم راجعة إلى مشيئته ، يحكم فيها ما يشاء بعدله ، فلهذا لما أيقنوا بالمعاد والجزاء سَهُل عليهم فعلُ الطاعات وترك المنكرات

"Iaitu semua urusan mereka kembali kepada Masyi-ah (kehendak) Allah. Dia memutuskan segala persoalan sesuai dengan kehendak dan keadilan-Nya. Kerana mereka meyakini adanya hari kembali dan pemberian pahala, maka terasa ringan bagi mereka dalam melaksanakan keta'atan dan meninggalkan kemungkaran"

Mengapa Digunakan Zhon (Sangkaan)?

Pada ayat "يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ" ((iaitu) orang-orang yang menyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb mereka), Ibnu Jarir mengatakan:

 العرب قد تسمي اليقين ظنا ، والشك ظنًا ، نظير تسميتهم الظلمة سُدْفة ، والضياء سُدفة ، والمغيث صارخا ، والمستغيث صارخًا ، وما أشبه ذلك من الأسماء التي يسمى بها الشيء وضدّه

"Masyarakat arab terkadang menyebut yakin dengan sebutan zhon (sangkaan). Keraguan (syak) adalah zhon. Seperti perkataan mereka, "zhulmah" (kegelapan) dan "dhiya" (cahaya), diganti dengan kata yang sama iaitu "Shudfah". Juga perkataan "al-Mughiits" dan "al-mustaghiits" dengan sebutan "Sharikh". Dan perkataan lain yang sebutannya sama dengan lawannya"

Seperti juga didalam Firman Allah:

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا

"Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya" (Al-Kahfi 18:53)

Didalam Sahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّانِيَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّالِثَ فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ آمَنْتُ بِكَ وَبِكِتَابِكَ وَبِرُسُلِكَ وَصَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ وَيُثْنِي بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ فَيَقُولُ هَاهُنَا إِذًا قَالَ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ الْآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ وَيَتَفَكَّرُ فِي نَفْسِهِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْهَدُ عَلَيَّ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ انْطِقِي فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِي يَسْخَطُ اللَّهُ عَلَيْهِ

 "Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan unta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?" Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab: "Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah solat, bersedekah," dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: "Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya)," kemudian dikatakan kepadanya: "Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu," dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: "Bicaralah!" Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafik dan orang yang Allah murkai." [HR Muslim].

 (Ibnu Kathir, Tafsir Al-Quranul 'Azhim, Jilid 1 m/s 238-241)